Nama Penulis : Da Eun Song & Seongcheol Kim
Bulan & Tahun Terbit : Mei 2026 (artikel ini dipublikasikan secara daring pada 21 Mei 2026)
Publisher / Nama Jurnal : Scientific Reports
Jenis Terbitan : Artikel Jurnal Ilmiah (Article in Press)
DOI : 10.1038/s41598-026-52766-3
Link Sumber Artikel
Bayangkan kamu sedang makan malam bersama keluarga. Suasananya hangat — ada tawa, ada cerita, ada makanan yang masih mengepul di meja. Lalu ponselmu berbunyi. Notifikasi dari Slack. Sebelum sempat berpikir, tangan sudah refleks meraihnya. Kamu minta maaf sebentar, buka aplikasi, baca pesan. Meski akhirnya kamu taruh kembali ponselmu, sesuatu sudah berubah. Pikiranmu tidak lagi sepenuhnya ada di meja makan itu. Ada sebagian darimu yang tertinggal di kantor — di pesan yang belum dibalas, di pekerjaan yang belum selesai, di ekspektasi yang tidak pernah benar-benar tidur.
Dan yang paling mengkhawatirkan: kamu bahkan tidak merasa ada yang salah. Karena ini sudah jadi hal biasa.
Sebuah penelitian terbaru di jurnal Scientific Reports akhirnya membuktikan bahwa perasaan itu bukan sekadar keluhan. Song dan Kim (2026) meneliti bagaimana aplikasi komunikasi kantor yang kita andalkan setiap hari — Slack, Microsoft Teams, dan sejenisnya — ternyata menyimpan sisi gelap yang diam-diam menggerogoti kesejahteraan mental penggunanya. Bukan karena aplikasinya buruk. Tapi karena kita tidak pernah benar-benar bisa berhenti menggunakannya.
Celah yang selama ini diabaikan
Selama bertahun-tahun, dunia riset hampir selalu menyorot sisi terang teknologi kantor — produktivitas meningkat, kolaborasi lebih mudah, tim tetap terhubung meski bekerja dari kota yang berbeda. Semua itu nyata dan tidak salah. Tapi ada satu pertanyaan yang nyaris tidak pernah diajukan: bagaimana jika teknologi yang kita banggakan itu justru perlahan menguras kita dari dalam?
Pertanyaan itu semakin mendesak setelah pandemi mengubah segalanya. Kantor bukan lagi satu-satunya tempat bekerja. Jam sembilan sampai lima bukan lagi satu-satunya waktu bekerja. Batas antara kehidupan profesional dan kehidupan pribadi yang dulu dijaga oleh pintu gedung kantor, kini hanya tersisa sebagai kebiasaan yang mudah dilanggar kapan saja — termasuk di meja makan, di akhir pekan, bahkan di tengah malam.
Song dan Kim melihat celah ini dan memutuskan untuk menyelidikinya. Mereka mengajak 200 pekerja kantoran di Korea Selatan untuk mengisi survei, mulai dari yang baru beberapa tahun bekerja hingga yang sudah puluhan tahun menghabiskan hidupnya di dunia korporat. Satu syarat: semua peserta harus aktif menggunakan aplikasi komunikasi kantor — Slack, Microsoft Teams, Naver Works, JANDI, Swit, atau Flow. Dari jawaban-jawaban itu, para peneliti memetakan pola tersembunyi yang selama ini tidak kelihatan.
Dua beban yang tidak kasat mata
Hasilnya membuka mata. Semakin intens seseorang menggunakan aplikasi kantor, semakin besar pula dua beban yang ia pikul tanpa sadar.
Beban pertama adalah kelelahan akibat banjir pesan. Pesan dari atasan, pesan dari rekan tim, notifikasi dari berbagai kanal yang aktif serentak — semuanya mengalir terus tanpa jeda. Otak dipaksa selalu waspada, selalu memproses, selalu merespons. Lama-kelamaan, kelelahan itu menumpuk menjadi sesuatu yang berat.
Tapi beban kedua ternyata jauh lebih berat dari yang pertama. Bukan soal banyaknya pesan yang masuk. Melainkan soal perasaan bahwa kamu tidak pernah benar-benar selesai bekerja. Bahwa meski sudah menutup laptop, sudah keluar dari kantor, sudah berbaring di tempat tidur — pikiranmu masih setengah di sana. Masih menunggu ada yang menghubungi. Masih merasa harus siap siaga. Para peneliti menemukan bahwa beban inilah yang paling banyak menguras energi mental — jauh lebih besar dari sekadar banyaknya pesan yang diterima.
Ketika teknologi menjadi penjajah
Ada dua cara sederhana untuk memahami mengapa ini terjadi.
Bayangkan energi mentalmu seperti baterai. Setiap tuntutan kerja menguras sedikit demi sedikit. Normalnya, istirahat dan waktu pribadi mengisi ulang baterai itu. Tapi ketika pekerjaan terus menerobos masuk ke ruang istirahat — lewat notifikasi, lewat pesan, lewat rasa bersalah kalau tidak merespons — baterai itu tidak pernah terisi penuh. Hari demi hari, sisa daya semakin sedikit. Itulah kelelahan yang banyak pekerja modern rasakan, tapi sulit mereka jelaskan.
Dulu ada tembok yang memisahkan dunia kerja dan dunia pribadi. Tembok itu bernama kantor — tempat yang kamu tinggalkan setiap sore dan tidak kamu masuki lagi sampai esok pagi. Tapi kini, aplikasi kantor ada di genggamanmu dua puluh empat jam sehari. Tembok itu sudah tidak ada. Dan ketika tembok itu roboh, pikiran tidak punya tempat untuk benar-benar beristirahat.
Para peneliti menyebut kondisi ini techno-invasion — ketika teknologi yang hadir untuk memudahkan hidup justru berbalik menginvasi ruang-ruang pribadi yang seharusnya terlindungi. Teknologi itu sendiri tidak berniat jahat. Tapi desain yang tidak memberi ruang untuk jeda, secara perlahan mengubah alat bantu kerja menjadi sumber tekanan yang tidak bisa dimatikan.
Lalu apa yang bisa dilakukan?
Penelitian ini tidak berhenti pada mengungkap masalah. Ia juga menunjukkan ke mana kita harus bergerak.
Bagi para pembuat aplikasi, pesannya jelas: bangun fitur yang memberi pengguna hak untuk berhenti. Jam tenang yang otomatis mematikan notifikasi di luar jam kerja. Mode fokus yang memutus semua gangguan. Pengingat bahwa pekerjaan bisa menunggu sampai besok pagi. Teknologi yang baik bukan hanya yang memudahkan kita terhubung — tapi juga yang memudahkan kita untuk melepas.
Bagi organisasi, perubahan tidak bisa hanya mengandalkan kesadaran individu. Selama budaya kerja masih menganggap selalu online sebagai bukti dedikasi, karyawan akan terus merasa bersalah setiap kali memilih untuk tidak merespons pesan di malam hari. Yang dibutuhkan adalah norma bersama yang tegas: ada waktu untuk bekerja, dan ada waktu yang benar-benar milik karyawan.
Dan bagi para pembuat kebijakan, ini adalah pengingat bahwa hak untuk tidak terhubung bukan kemewahan — ia adalah kebutuhan. Beberapa negara sudah mulai melindunginya lewat regulasi. Sudah saatnya lebih banyak negara mengikuti. Satu catatan penting: penelitian ini dilakukan di Korea Selatan dengan budaya kerja yang khas, sehingga penerapannya di tempat lain termasuk Indonesia perlu dipertimbangkan dengan kehati-hatian.
Meski begitu, pertanyaan intinya tetap berlaku di mana pun.
Kesuksesan di era digital bukan soal siapa yang paling lama online. Tapi soal siapa yang bisa bekerja dengan baik — dan tetap utuh secara mental setelahnya.
Apakah kamu benar-benar pulang dari kerja hari ini? Atau kamu hanya berpindah tempat, sementara pikiran dan ponselmu masih tinggal di kantor?












