Menu

Dark Mode

Konstribusi

Penguatan Pembelajaran Inklusif ABK, Tim PKM Hadirkan Buku Panduan Sensorik di IGTKI Biringkanaya

badge-check


					Penguatan Pembelajaran Inklusif ABK, Tim PKM Hadirkan Buku Panduan Sensorik di IGTKI Biringkanaya Perbesar

Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) terus diperkuat melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang dilaksanakan di wilayah Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Manajemen dan Produksi Bahan Ajar Sensorik Melalui Pengembangan Buku Panduan Pembelajaran Inklusif Bagi ABK”. Program tersebut dipimpin oleh Ketua PKM Universitas Teknologi Sulawesi (UTS), Abidah R. Delu, S.Sos., M.Si, bersama anggota Abd. Naris Agam, S.Sos., M.Si dan Lista Lita, S.Pd., M.Si, serta melibatkan mahasiswa Salsabila dan Sriandani.

PKM ini terlaksana melalui kerja sama strategis dengan Nurmala Usman, S.Pd., M.Pd, selaku Ketua IGTKI Kecamatan Biringkanaya, yang menjadi mitra utama dalam implementasi kegiatan di lapangan. Peserta yang hadir sebanyak 30 orang yang berasal dari TK yang berada di Kecamatan Biringkanaya.


Dalam pelaksanaannya, program ini berfokus pada peningkatan kapasitas guru taman kanak-kanak dalam memahami dan mengembangkan bahan ajar berbasis sensorik yang adaptif bagi ABK. Salah satu luaran utama dari kegiatan ini adalah tersusunnya buku panduan pembelajaran inklusif yang dirancang praktis, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan beragam karakteristik.

Ketua PKM, Abidah R. Delu, menjelaskan bahwa pendekatan sensorik dalam pembelajaran menjadi kunci penting dalam mendukung perkembangan anak berkebutuhan khusus. “Melalui buku panduan ini, kami berharap para guru memiliki referensi yang sistematis dalam mengelola kelas inklusif serta mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih responsif terhadap kebutuhan anak,” ujarnya.

Sementara itu, Nurmala Usman menyambut baik kegiatan tersebut dan menilai bahwa program ini sangat relevan dengan kebutuhan guru di lapangan. “Selama ini, guru-guru masih membutuhkan panduan yang konkret dalam menangani ABK. Kehadiran program PKM ini memberikan solusi nyata, terutama dalam penyediaan bahan ajar yang tepat,” ungkapnya.

Selain penyusunan buku panduan, kegiatan ini juga mencakup pelatihan, pendampingan, serta praktik langsung dalam mengembangkan bahan ajar sensorik. Guru-guru yang tergabung dalam IGTKI Kecamatan Biringkanaya diberikan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan kegiatan.

Facebook Comments Box

Read More

LPPM Unhas Latih Siswa SMAN 2 Bulukumba Jadi Agen Kesiapsiagaan Bencana

3 July 2026 - 07:13 WITA

BULUKUMBA — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan UPT SMA Negeri 2 Bulukumba menggelar bimbingan teknis (bimtek) Sekolah Siaga Bencana bagi siswa. Kegiatan berlangsung di aula SMA Negeri 2 Bulukumba, Selasa (30/6/2026), dan diikuti puluhan siswa yang terdiri atas anggota Palang Merah Remaja (PMR) Wira dan pengurus OSIS sekolah tersebut. Kegiatan mengusung tema “Penguatan Kapasitas Siswa SMAN 2 Bulukumba sebagai Agen Kesiapsiagaan dalam Mendukung Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Kebencanaan.” Bimtek bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa dalam kesiapsiagaan bencana, sekaligus menumbuhkan kepemimpinan siswa sebagai agen kesiapsiagaan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini diinisiasi oleh Dr. Amril Hans, S.AP., MPA, dosen Administrasi Publik Universitas Hasanuddin dengan fokus kajian tata kelola kebencanaan, sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat LPPM Unhas. Ia didampingi tim fasilitator yakni Andi Rahmat Hidayat, S.Sos.,M.Si dan Sulfadli, S.Sos.,MAP. Kepala UPT SMA Negeri 2 Bulukumba, Margawati, S.Pd.,M.Pd, menyambut baik kegiatan tersebut.“Kami mengapresiasi kegiatan ini karena membekali siswa keterampilan yang menyelamatkan sekaligus mendukung penerapan muatan lokal pendidikan kebencanaan di sekolah kami,” ujarnya. Dr. Amril Hans menjelaskan, bimtek dirancang sebagai satu rangkaian pembelajaran yang membawa siswa dari sadar risiko, mau berperan, tahu prosedur, hingga mampu bertindak. “Kami ingin siswa tidak hanya menjadi korban potensial, tetapi menjadi bagian dari solusi. Sekolah yang aman bukan sekolah yang tidak pernah ditimpa bencana, melainkan yang selalu siap menghadapinya,” katanya. Kegiatan berlangsung interaktif dalam beberapa sesi. Pada sesi awal, siswa diajak mengenali konsep risiko dengan pesan kunci bahwa bencana seperti gempa tidak dapat dihentikan, tetapi korban dapat dikurangi apabila warga sekolah siap. Selanjutnya, siswa melakukan pemetaan risiko partisipatif dengan menggambar denah sekolah secara menyeluruh — mulai dari gedung kelas, laboratorium, halaman, hingga lapangan. Setiap area kemudian diidentifikasi dan ditandai menggunakan penanda warna ke dalam tiga kategori: berisiko atau berbahaya, perlu perhatian, dan aman. Tiap kelompok mempresentasikan hasil pemetaannya untuk memperoleh masukan dari tim fasilitator. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penguatan peran siswa sebagai agen kesiapsiagaan serta pembekalan prosedur dan teknik penyelamatan diri, termasuk gerakan Drop–Cover–Hold On saat gempa dan aturan evakuasi. Untuk mengukur capaian, peserta mengerjakan pre-test dan post-test serta mengisi lembar penilaian kesiapsiagaan. Sebagai tindak lanjut, kegiatan merintis pembentukan Tim Siswa Siaga Bencana yang diharapkan menjadi motor budaya aman di sekolah, sejalan dengan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Melalui kolaborasi ini, LPPM Unhas dan SMA Negeri 2 Bulukumba berharap kesiapsiagaan warga sekolah semakin meningkat, mendukung implementasi kurikulum muatan lokal pendidikan kebencanaan, dan dapat direplikasi oleh sekolah lain di Kabupaten Bulukumba dan sekitarnya.

Tingkatkan Kapasitas ASN, LPPM Unhas Gelar Pelatihan Policy Brief di Bulukumba

1 July 2026 - 13:29 WITA

Direktur Kemahasiswaan Unhas Pimpin IABA Sulsel, Dorong Akses Bahasa Inggris untuk Anak Daerah

19 May 2026 - 13:04 WITA

foto Makassar — Akses belajar Bahasa Inggris masih menjadi tantangan bagi banyak anak di daerah, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan sumber belajar dan pendampingan pendidikan. Menjawab persoalan tersebut, Ikatan Alumni Britania Raya atau IABA Sulawesi Selatan menghadirkan program sosial berbasis pendidikan yang lebih inklusif dan mudah dijangkau.
Trending on Kabar Kampus