Menu

Dark Mode

Eksplorasi

Kenapa Bau Bisa Membuat Kita Takut? Otak Ternyata Punya “Alarm” Tersembunyi

badge-check


					Kenapa Bau Bisa Membuat Kita Takut? Otak Ternyata Punya “Alarm” Tersembunyi Perbesar

Nama Penulis : Giulia Casarotto, Lorena Jourdain, Anastasia Gemelli & Camilla Bellone

Terbit : 19 Mei 2026 

Jenis Terbitan : Artikel Jurnal Ilmiah (Early Access — versi belum final)

DOI :  10.1038/s41467-026-73268-w

Penerbit : Journal Nature Communications

Baca Sumber Aslinya

Pernahkah kamu tiba-tiba tegang hanya karena mencium bau parfum seseorang yang pernah menyakitimu? Sebelum sempat berpikir, tubuh sudah bergerak menghindar. Reaksi itu bukan kebetulan — ada bagian kecil di otak yang bekerja jauh lebih cepat dari kesadaranmu. Inilah salah satu keajaiban sistem pertahanan tubuh yang selama ini belum sepenuhnya dipahami oleh sains.

Sebuah penelitian terbaru di jurnal Nature Communications akhirnya mengungkap siapa “dalang” di balik reaksi itu. Namanya Olfactory Tubercle (OT) — area kecil di otak yang selama ini hanya dikenal sebagai pemroses bau dan motivasi, tapi ternyata menyimpan peran yang jauh lebih besar dari yang pernah diduga sebelumnya. Penelitian ini ditulis oleh tim neurosaintis dari Universitas Jenewa, Swiss, yang dipimpin oleh Camilla Bellone bersama Giulia Casarotto, Lorena Jourdain, dan Anastasia Gemelli.

Mengapa penelitian ini penting?

Selama bertahun-tahun, ilmuwan mempelajari rasa takut pada hewan dengan cara yang kurang natural — seperti memberikan kejutan listrik atau memicu stres berkepanjangan lewat serangan berulang. Metode itu tidak mencerminkan bagaimana ketakutan sungguhan bekerja dalam situasi sosial nyata. Ada celah besar yang belum terjawab: bagaimana tepatnya otak bereaksi saat pertama kali menghadapi ancaman yang datang tiba-tiba dari lingkungan sekitarnya?

Untuk menjawab itu, para peneliti merancang pendekatan yang jauh lebih naturalistik. Mereka mempertemukan tikus jantan dengan tikus asing yang awalnya dalam kondisi terkekang, lalu dilepaskan sehingga bisa berinteraksi secara alami hingga terjadi agresi fisik. Setelah itu, memori tikus diuji hanya dengan memaparkan bau si penyerang — tanpa pertemuan langsung. Seluruh proses dipantau menggunakan tiga teknologi mutakhir: calcium imaging untuk melihat aktivitas sel saraf secara real-time, kemogenetik (chemogenetics) untuk menyalakan atau mematikan sirkuit saraf tertentu menggunakan zat kimia, serta elektrofisiologi untuk merekam sinyal listrik neuron secara langsung.

Apa yang ditemukan?

Hasilnya mengejutkan. OT bukan sekadar “perekam kejadian” — ia justru menyala paling terang bukan saat ancaman terjadi, melainkan saat tikus mengingat kembali bau si penyerang. OT adalah alarm yang bertugas mengingatkan: “Ingat? Ini berbahaya.” Begitu aktivitas OT dihambat saat proses pengingatan, tikus kehilangan kemampuan untuk menghindar — seolah alarm itu dimatikan.

Lebih mencengangkan lagi, para peneliti menemukan perubahan fisik nyata pada sambungan saraf yang menghubungkan pusat emosi — tepatnya area yang disebut basolateral amygdala (BLA) — ke OT. Dan perubahan ini tidak terhapus meski tikus sudah menjalani pelatihan untuk tidak takut lagi. Ini memperkuat sebuah gagasan yang selama ini hanya jadi dugaan: trauma tidak benar-benar hilang. Otak hanya menumpuk informasi baru di atas jejak lama, sementara jejaknya tetap tersimpan rapat di dalam.

Serotonin vs. dopamin: saklar yang menentukan segalanya

Di sinilah peran dua zat kimia otak menjadi sangat menarik. Saat mengingat ancaman, otak melepaskan serotonin yang mendorong tubuh untuk menghindar. Namun ketika aliran serotonin itu diblokir oleh peneliti, dopamin mengisi ruang kosong itu — dan tikus justru mendekati si agresor dengan penuh rasa ingin tahu. Serotonin dan dopamin, tampaknya, bekerja seperti “saklar” biologis yang menentukan apakah kita lari atau justru mendekat saat bahaya datang.

 

Apa artinya bagi kita?

Meski penelitian ini dilakukan pada tikus, arah temuannya membuka kemungkinan yang menarik bagi pemahaman kita tentang kondisi seperti PTSD atau gangguan kecemasan sosial pada manusia. Selama ini, banyak pendekatan terapi berusaha menghapus ingatan traumatis — sesuatu yang kini semakin jelas tidak bisa dilakukan. Penelitian ini menawarkan arah yang lebih realistis: bukan menghapus memori, melainkan menargetkan “saklar” kimiawi di otak — seperti jalur serotonin dan dopamin — dengan pendekatan yang lebih presisi. Jika dikombinasikan dengan terapi psikologis, strategi ini berpotensi membantu seseorang mengelola respons ketakutan tanpa harus kehilangan memori kewaspadaan yang justru melindungi mereka.

Satu catatan penting: artikel ini masih berstatus early access — versi yang belum melalui proses editorial final di Nature Communications. Artinya, detail teknis masih mungkin berubah sebelum versi resminya terbit. Namun arah temuan intinya sudah cukup kuat: otak kita tidak dirancang untuk melupakan. Ia dirancang untuk bertahan hidup.

Otak kita tidak dirancang untuk melupakan. Ia dirancang untuk bertahan hidup.

 

Facebook Comments Box

Read More

Ketika Notifikasi Kantor Mencuri Akhir Pekanmu

24 May 2026 - 06:25 WITA

Trending on Eksplorasi